Renungan Akhir Ramadhan

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib) Continue reading

Advertisements

Nasehat Menjelang Ramadhan Berakhir

“Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian takwa, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian takwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian takwa itulah yang lebih penting.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 266). Continue reading

Renungan Selama Ramadhan dan Setelahnya

Bismillah…

Kaum muslimin rohimakumulloh…

Wonten ing enjing meniko, sumonggo kito tansah ningkataken iman soho taqwa kito ing ngarso dalem alloh sarto syukur kito dumateng sedoyo kenikmatan engkang antawisipun inggih meniko datengipun dinten riyoyo engkang bahagia meniko. Sebab hari raya idul fitri salah setunggalipun saking tigo hari royo engkang dipun syariataken. Engkang nomer setunggal inggih meniko hari raya idul fitri, nomer kaleh hari raya idul adha lan nomer tigo hari raya saben minggu inggih meniko dinten jumat.

Wonten ing enjing meniko, sak derengipun nindaken sholat id kaum muslimin dipun wajibaken ngedalaken zakat fitrah minongko bentuk taqorrub utawi ibadah dumateng alloh. yektos Alloh lan rosululipun sampun majibaken zakat fitrah lan ndawuhaken dumeteng umatipun supados ngedalaken zakat, ingkag dipun tindakaken paling akhir watesipun dumugi sak derengipun shalat id.

Pramilo sinten enkang ngedalaken zakat sak derengipun shalat  mongko ketampi dados zakat fitrah, anangin menawi anggenipun zakat sak sampunipun shalat id mongko dados sodaqoh biasa mboten kalebet zakat fitrah, kejawi piyambakipun kagungan uzur. Rosululloh majibaken zakat fitrah minongko hikmahipun supados dados penyuci jiwa Continue reading

Asal Usul Peringatan Nuzulul Quran

Bagaimana dengan peringatan Nuzulul Qur’an di Indonesia? Ia bercerita, mengapa di Indonesia nuzulul qur’an lebih familiar diadakan pada malam 17 Ramadhan?

“Itu kurang lebih karena dulu ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, bertepatan pada hari jum’at tanggal 17 Ramadhan, atas saran Buya Hamka, presiden pertama Indonesia ini menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an sebagai rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.

Akibat Ibadah Yang Tidak Berbuah Ketakwaan

Ada sebuah kisah yang di dalamnya terdapat pelajaran besar, agar kita dalam memandang suatu ibadah, tidak terbatas kepada lahiriyah amal semata, namun mampu meneropong hakikat sebuah amal ibadah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا – غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ .  قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! فَإِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا – وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ )

“Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah Seseungguhnya ada seorang wanita yang terkenal dengan banyaknya shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia dikenal pula suka menyakiti tetangganya dengan lisannya? Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia masuk Neraka.’ Lalu orang tersebut berkata lagi, “Wahai Rasulullah! seungguhnya ada seorang wanita yang dikenal sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya, dan dia bersedekah dengan sepotong keju, namun ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda ‘Dia masuk Surga’” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Mundziri).

Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Beliau suatu saat mengatakan, “Seharusnya bagi kita -ketika kita sedang puasa- takwa kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla lebih besar daripada takwa kita pada saat sedang tidak berpuasa, walaupun takwa itu wajib dilakukan, baik pada saat tidak puasa maupun pada saat puasa, akan tetapi seharusnya dalam memperhatikan ketakwaan pada saat berpuasa itu lebih besar. Dan saya menduga, seandainya seseorang menahan diri dari kemaksiatan sebulan penuh, maka ia akan berubah cara beragamanya dan tingkah lakunya” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29384).