Klasifikasi Makki dan Madani

      1.Surah-surah Madaniyah

Pendapat yang paling mendekati kebenaran mengenai jumlahnya adalah 20 surah yakni  Al-Baqarah, Ali ‘Imran , An-Nisa’, Al-Ma’idah, Al-Anfal, At-Taubah, An-Nur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, Al-Mujadalah, Al-Hasyr , Al-Mumtahanah, Al-Jumu’ah , Al-Munafiqun, At-Talaq, At-Tahrim, An-Nasr[4].

      2.Surah-surah Makkiyah

Pendapat yang paling mendekati kebenaran mengenai jumlahnya adalah 82 surah. Yaitu surat-surat yang tidak termasuk dalam surat-surat madaniyah dan surat-surat yang diperselisihkan.

3.Surah-surah yang diperselisihkan

Pendapat yang paling mendekati kebenaran mengenai jumlahnya adalah 12 surah yakni Al-Fatihah, Ar-Ra’d, Ar-Rahman, As-Saff, At-Taghaabun, Al-Mutaffifin, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Az-Zalzalah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas[5].

      4.Ayat Makkiyah dalam surah Madaniyah

               Ayat Makkiyah dalam surat Madaniyah maksudnya dalah Suatu surat tersebut merupakan kriteria surah Madaniyah akan tetapi banyak ulama mengecualikan ayat tersebut, yaitu ayat tersebut termasuk ayat makkiyah. Sebagai contoh Surat Al-Anfal termasuk surat madaniyah akan tetapi para ulama mengecualikan QS. Al-Anfal:30, Allah SWT berfirman[6]:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِين                                                    

“Dan (ingatlah) ketika orang kafir (Quraisy) membuat makar terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat makar, tetapi Allah menggagalkan makar mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar.” (Al-Anfal : 30)

        Mengenai ayat tersebut Muqatil mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan di Mekkah, karena berkenaan dengan apa yang dilakukan orang-orang musyrik di Darun Nadwah ketika mereka merencanakan tipu daya terhadap Rasulluh sebelum hijrah[7]. Dan juga sebagian ulama mengecualikan QS. Al-Anfal : 64 

      5.Ayat Madaniyah dalam surah Makkiyah

Contohnya seperti perkataan Ibnu Abbas bahwa QS. Al-An’am turun sekaligus di Mekkah sehingga Makkiyah kecuali ayat 151-153. Dan QS. Al-Hajj adalah Makkiyah kecuali ayat 19-21, karena ayat tersebut diturunkan di Madinah[8].

6.Ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madaniyah

Kan sesudah Ayat tersebut diturunkan di Mekkah pada hari penaklukkan kota Mekkah, akantetapi termasuk madaniyah karena diturun sesudah hijrah, dan seruannya juga bersifat umum.Contoh ayat seperti ini adalah QS. Al-Hujurat : 13, Allah SWT berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui & Maha Mengenal.”(Al-Hujurat : 13)

7. Ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makkiyah

Ayat seperti ini diturunkan di Madinah dan tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik penduduk Mekkah. Contohya adalah QS. Al-Mumtahanah dan permulaan QS. Al-Bara’ah (At-Taubah) yang diturunkan di Madinah akan tetapi seruannya ditujukan untuk orang-orang musyrik Mekkah[9].

8.Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Mekkah dalam Madaniyah

Yakni ayat yang dalam surah Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan ciri umum Makkiyah, karena ayat tersebut diturunkan di Mekkah[10]. Contohnya QS. Al-Anfal : 32 

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan (ingatlah), ketika mereka berkata : Ya Allah, jika benar (Al-Qur’an) ini benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit. Atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”(QS. Al-Anfaal: 32)

      9.Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam Makkiyah

Yakni ayat yang dalam surah Makkiyah tetapi mempunyai gaya bahasa & ciri umum Madaniyah[11]. Contohnya QS. An-Najm : 32

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ …

“(Yaitu) Mereka yang menjauhi dosa-dosa besar & perbuatan keji yang selain kesalahan-kesalahan kecil.” (An-Najm : 32)

        Imam Suyuthi mengatakan bahwa perbuatan keji aalah setiap dosa yang ada sanksinya. Dosa-dosa besar adalah stiap dosa yang mengakibatkan siksa neraka. Dan kesalahan-kesalahan kecila dalah apa yang terdapat diantara kedua batas dosa-dosa tersebut. Sedangkan di Mekkah belum ada sanksi dan yang serupa dengannya.[12]

10.Ayat yang dibawa dari Mekkah ke Madinah

Contohnya adalah QS. Al-A’la dalilnya HR. Bukhari dari Al-Barra bin ‘Azib yang menceritakan kedatangan pertama shahabat ke Madinah.

11.Ayat yang dibawa dari Madinah ke Mekkah

Contohnya awal QS. Al-Bara’ah dalilnya ketika Rasul SAW memerintahkan Ali kw untuk menyampaikan kepada Abu Bakar ra untuk berhaji & mengumumkan bahwa setelah tahun kesembilan tidak seorangpun Kaum Musyrikin diperbolehkan berhaji[13].

12.Ayat yang turun pada malam dan siang hari

Kebanyakan ayat Qur’an turun pada siang hari. Ayat yang turun pada malam hari diantaranya adalah QS. Ali Imran : 190. Contoh lainnya QS. At-Taubah: 117-118 dan QS. Al-Fath.

13.Ayat yang turun di musim panas dan musim dingin

        Para ulama memberi contoh ayat yang turun di musim panas dengan ayat tentang kalalah yang terdapat di akhir Surat An-Nisa’ sebagaimana yang disebutkan dalam shahih Muslim. Contoh lain dalam Q.S. At-Taubah:81 yaitu ayat tersebut turun dalam perang Tabuk. Perang Tabuk tersebut terjadi pada musim panas sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’an[14].

        Ayat yang turun di musim dingin yaitu Q.S.An-Nur:11-26, sebagaimana hadits sahih dari Aisyah. Contoh lainnya adalah ayat-ayat yang turun mengenai perang Khandak, dari Surah Al-Ahzab, ayat-ayat tersebut turun pada hari yang sangat dingin.

14.Ayat yang turun diwaktu menetap dan dalam perjalanan

Kebanyakan Qur’an itu turun diwaktu menetap. Ayat yang turun didalam perjalanan adalah At-Taubah : 34 , QS. Al-Hajj : 1-2 dan QS. Al-Fath.Dalam Q.S.At-Taubah:34  diriwayatkan oleh Ahmad melalui Sauban, bahwa ayat tersebut turun ketika Rasululullah dalam suatu perjalanan. Begitu juga awal Surah Al-Hajj dan Surat Al-Fath.

D.Perbedaan Makki dan Madani

Ketentuan Makki dan Ciri Khas Temanya[15]:

1.Setiap surat yang mengandung ayat sajdah.

2.Setiap surat yang di dalamnya terdapat lafaz Kalla. Lafaz tersebut dalam Al-Qur’an disebutkan 33 kali dalam 15 surat.

3.Setiap surat yang terdapat seruanياايهاالناس kecuali Surat Al-Hajj:77

4.Setiap surat yang terdpat kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu kecuali surat Al-Baqarah.

5.Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan Iblis kecuali surat Al-Baqarah.

6.Setiap surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf Hijaiyah) kecuali surat Al-Baqarah dan Ali Imran.

Sedangkan dari segi ciri utama dan gaya bahasa yaitu:

1.Ajakan Tauhid kepada Allah dan beribadah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, tentang hari kiamat, Surga dan nikmatnya, Neraka dan siksanya, argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti yang rasional atau ayat kauniyah.

2.Penetapan dasar-dasar ibadah dan muamalah dan ketentuan umum lainnya.

3.Menyebutkan kisah Nabi dan Umat-umat terdahulu sebagai pelajaran.

4.Suku katanya pendek-pendek dan disertai denagn makna yang mengesankan, pertanyaannya singkat, menggetarkan hati dan maknanya pun menyakinkan.

Ketentuan Madani dan Ciri Khas Temanya[16]:

1. Setiap surat yang mengandungfaridhah (kewajiban) dan had (sanksi)

2.Setiap surat yang menyebutkan tentang hal ihwal orang munafik kecuali Surat Al-Ankabut.

3.Setiap surat yang membicarakanmujadalah Ahl Kitab.

Sedangkan dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa yaitu:

1.Penjelasan tentang ibadah, muamalah, had, kekeluargaaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, masalah perang dan masalah tasyri’.

2.Seruan terhadap Ahl Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ajakan mereka untuk masuk islam dan lain sebagainya.

3.Membicarakan tentang orang-orang munafik sifat-sifat orang munafik dan membahas tentang rahasia mereka.

4.Pada umumnya ayat-ayat dan suratnya panjang-panjang dan menggambarkan luasnya akidah dan hukum islam.

E.Faedah Mengetahui Makki dan Madani

1.Dapat membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Pengetahuan mengenai tempat turunnya suatu ayat dalam Al-Qur’an dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkan dengan tafsiran yang benar. Dan juga dapat mengetahui dan membedakan mana nasikh dan yang mana mansukh apabila diantaranya terdapat makna yang kontradiktif[17].

2.Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa sendiri[18].

3.Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasullulah sejalan dengan dakwah beserta segala peristiwanya, baik pada periode Mekkah maupun pada periode Madinah, sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan[19].


Advertisements

WAHYU DAN MACAM-MACAMNYA

a.      Pengertian Wahyu

Arti wahyu dari segi bahasa adalah petunjuk yang di sampaikan secara sembunyi, atau dengan kata lain wahyu tersebut menggunakan metode sembunyi-sembunyi dalam penyampaiannya. Pengertian wahyu Menurut syara’ wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia, baik dengan perantaraan atau tidak dengan perantaraan.

 Lafazh “wahyu” ini menunjukkan bahwa penyampaian berita dari Allah Swt kepada Rasulullah SAW menggunakan metode khusus.Hal itu dapat dibuktikan dengan digunakannya metode sembunyi-sembunyi, keakuratan, dan tidak memungkinkannya orang lain untuk dapat mengetahui atau bahkan untuk sekedar merasakannya.

Metode wahyu ini bukanlah satu-satunya cara yang digunakan oleh Allah Swt untuk menyampaikan kalimat-Nya kepada penutup para nabi, Muhammad saw. Akan tetapi selain itu terdapat metode-metode lain yang lebih umum sebagaimana yang pernah dijalani oleh para utusan-Nya yang lain dalam memperoleh kitab dari-Nya

    Menuurut bahasa, wahyumempunyai beberapa arti, antara lain sebagai berikut:
     a)  Berarti ilham gharizi atau instink yang terdapat pada manusia atau binatang.   
      Contohnya, seperti kata wahyuyang terdapat firman Allah SWT:

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِبُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون                   ,

               Artinya:    “Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberi instink) kepada lebah,   
          supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kaydan di    
       (rumah-rumah) yang didirikan (manusia).”
  (Q.S. An-Nahl: 68)

        b) Berarti ilham fitri atau firasat yang hanya ada pada manusia dan tidak pada    
           binatang. Contohnya seperti katawahyu
 dalam firman Allah SWT:


وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِهِ                                                                               Artinya:
     “Dan kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu nabi musa supaya menyusui dia    
         (Musa).”  
(Q.S. Al-Qashash: 7) 

      c) Berarti tipu daya dan bisikan setan, seperti arti kata wahyu dalam firman Allah   
          SWT:
              
                                                 وَإِنَّٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْلِيُجَٰدِلُوكُمْ         

          Artinya:
          “Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawan mereka     
            agar mereka membantah kalian
.”  (Q.S. Al-An’am: 121)

      d) Berarti isyarat yang cepat secara rahasia, yang hanya tertuju pada Nabi/ Rasul   
           saja. Contohnya seperti arti kata wahyu dalam firman Allah SWT:
                                                         
                                                          
إِنَّآأَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢبَعْدِهِ

            Artinya: 
          “Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana kami   
            telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya.”
             (Q.S. An-Nisa: 163)

        Arti keempat inilah yang relevan dengan pengertian wahyu menurut istilah    
        dalam pembahasan disini.

Dan definisi antara keduanya sangat mirip dengan pengertian wahyu menurut kaum orientalis, yang menuduh bahwa wahyu itu hanyalah berupa angan-angan dari dalam diri Nabi sendiri. Tuduhan itu tidak tepat. Sebab wahyu itu adalah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan ilham ialah intuisi yang diyakini oleh jiwa yang mendorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa sadar dari mana datangnya, hal dan senang.

BCara Turunnya Wahyu

Dari keterangan al-Qur’an jelaslah bagi kita bahwa wahyu merupakan hubungan ghaib yang tersembunyi antara Allah Swt dan para utusan-Nya. Secara umum wahyu diturunkan, seperti yang diidentifikasikan Alqur’an:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنوَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِىَبِإِذْنِهِۦ مَا يَشَآءُ إِنَّهُۥ عَلِىٌّحَكِيمٌ                                                                              

Artinya:

” Dan tidak ada bagi seseorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia maha tinggi lagi maha bijaksana”.  (Q.S. Asy-Syura: 51)

Dari keterangan ayat tersebut dapatlah diketahui bahwa cara turunnya wahyu pada umumnya ada tiga cara, termasuk cara turun wahyu Al-qur’an itu adalah sebagaiberikut:
                  Pertama, dengan cara menambatkan makna isi al-Qur’an tersebut ke dalam hati Rasulullah saw, atau dengan cara menghembuskannya ke dalam jiwanya, sehingga ia merasakan sendiri bahwa apa yg diterimannya itu berasal dari Allah Swt. Cara ini sering disebut dengan cara Ra’yu ash-shalihah atau impian nyata diperolehnya dengan jalan mimpi dalam tidur, tetapi kemudian menjadi kenyataan. Contohnya, seperti impian Nabi Ibrahim AS ketika menerima wahyu yang memerintahkan supaya menyembelih puteranya Ismail.


                  Kedua, menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW dari balik tabir, yakni suara bisikan wahyu disampaikan kepada Nabi SAW dari celah-celah gemerincingya suara lonceng/bel. Jadi yang dijadikan tabir menutup pendengaran para sahabat adalah gemuruhnya bunyi lonceng, yang menghalangi telinga mereka mendengar bisikan suara wahyu ayat yang diturunkan. Tetapi telinga Nabi tetap mendengar bisikan suara wahyu itu dari tabir suara lonceng tersebut.

ان الحارث بن هشام سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله, كيف يأتيك الوحي؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أحيانا يأتيني مثل صلصلة الجرس وهو أشده علي, فيفصم عني وقد وعيت عنه ما قال.  

Sesungguhnya al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW seraya berkata: “Wahai Rasulullah bagaimana wahyu itu datang kepadamu? Maka Rasulullah SAW menjawab, bersabda: Kadang-kadang datang kepadaku seperti gemuruhnya bunyi lonceng, dan itu yang paling berat bagiku. Maka begitu berhenti bunyi itu dariku, aku telah menguasai apa yang sudah diucapkan-Nya. 

                  Ketiga, Dengan cara melalui perantaraan malaikat Jibril AS sebagai pembawa wahyu-Nya. Hal ini sebagaimana sudah diisyaratkan oleh Alqur’an yang terdapat pada ayat 193-194 surah Asyu’ara. Jadi, malaikat Jibril membacakan wahyu ayat-ayat yang diturunkan, baik dia itu tetap dalam bentuk aslinya dalam alam rohani, dan tubuh Nabi SAW yang melepaskan diri dari bentuk tubuh jasmani menjadi bentuk rohani. Sebagaimana sabda Nabi SAW lanjutan hadits diatas:

قال: أحيانا يتمثل لي الملك رجلا فيكلمني فأعي ما يقول, قالت عائشة: ولقد رأيته ينزل عليه الوحي في اليوم الشديد البرد, فيفصم عنه وإن جبينه يتفصد عرقا (رواه البخاري)

Dan kadang-kadang malaikat menyamar kepadaku sebagai laki-laki, lalu mengajak berbicara denganku. Maka aku kuasai apa yang dikatakannya. “Aisyah lalu berkata: “Saya pernah melihat beliau menerima wahyu pada hari yang sangat dingin, tetapi begitu selesai wahyu itu dari beliau, maka bercucuranlah keringat di pelipis beliau SAW. (H.R. al-Bukhari).


Cara ini terasa berat bagi Nabi, sehingga seolah-olah beliau seperti mengigau atau pingsan, melainkan karena sedang penuh konsentrasi dalam menghadapi malaikat dalam alam rohani. Hal ini sesuai dengan keterangan Al-Qur’an:


                                                                               إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًاثَقِيلًا
Artinya:
  ” Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”           (Q.S. Al-Muzammil: 5

Perbedaan Hadits Qudsi & Hadits Nabawi

Hadits Qudsi

“>Secara bahasa, kata qudsi adalah nisbah dari kata quds


>Hadits qudsi adalah firman atau perkataan Allah SWT, namun jenis firman Allah SWT yang tidak termasuk Al-Quran. Hadits qudsi tetap sebuah hadits, hanya saja Nabi Muhammad SAW menyandarkan hadits qudsi kepada Allah SWT. Maksudnya, perkataan Allah SWT itu diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan redaksi dari diri beliau sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi, maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah SAW dengan disandarkan kepada Allah, dengan mengatakan:

Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`, atau ia mengatakan:

Rasulullah SAW mengatakan: Allah Ta`ala telah berfirman atau berfirman Allah Ta`ala.`o99
Contoh hadits qudsi antara lain:

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah SAW yang meriwayatkan dari Allah azza wajalla: Tangan Allah penuh, tidak dikurangi lantaran memberi nafkah, baik di waktu siang maupun malam.

Contoh yang lainnya:
Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW berkata: ` Allah ta`ala berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku.bila menyebut-KU di dalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan bila ia menyebut-KU di kalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu.

Hadits Nabawi 
Sedangkan hadits nabawi adalah segala yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat.

Yang berupa perkataan seperti perkataan Nabi SAW:
Sesungguhnya sahnya amal itu disertai dengan niat. Dan setiap orang bergantung pada niatnya.

Sedangkan yang berupa perbuatan ialah seperti ajaranya pada sahabat mengenai bagaimana caranya mengerjakan shalat, kemudian ia mengatakan:

Shalatlah seperti kamu melihat aku melakukan shalat.

Juga mengenai bagaimana ia melakukan ibadah haji, dalam hal ini Nabi saw. Berkata:

Ambilah dari padaku manasik hajimu.

Sedang yang berupa persetujuan ialah seperti beliaumenyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan atau pun perbuatan, baik dilakukan di hadapan beliau atau tidak, tetapi beritanya sampai kepadanya. Misalnya mengenai makanan biawak yang dihidangkan kepadanya, di mana beliaudalam sebuah riwayattelah mendiamkannya yang berarti menunjukkan bahwa daging biawak itu tidak haram dimakan.
Perbedaan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi

Hadis nabawi itu ada dua macam, yaitu:

a. Tauqifi

Yang bersifat tauqifi yaitu yang kandungannya diterima oleh Rasulullah SAW dari wahyu, lalu ia menjelaskan kepada manusia dengan kata-katanya sendiri. Bagian ini, meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari segi pembicaraan lebih dinisbahkan kepada Rasulullah SAW, sebab kata-kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya, meskipun di dalamnya terdapat makna yang diterima dari pihak lain.

b. Taufiqi

Yang bersifat taufiqi yaitu: yang disimpulkan oleh Rasulullah SAW menurut pemahamannya terhadap Quran, karena ia mempunyai tugas menjelaskan Quran atau menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulannyang bersifat ijtihad ini, diperkuat oleh wahyu jika ia benar, dan jika terdapat kesalahan didalamnya, maka turunlah wahyu yang membetulkannya. Bagian ini bukanlah kalam Allah secara pasti.

Dari sini jelaslah bahwa hadis nabawi dengan kedua bagiannya yang tauqifi dan taufiqi dengan ijtihad yang diakui oleh wahyu itu bersumber dari wahyu. Da inilah makna dari firman Allah tentang Rasul kita Muhammad saw.:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS An-Najm:3-4).

Hadis qudsi itu maknanya dari Allah, ia disampaikan kepada Rasulullah SAW melalui salah satu cara penurunan wahyu, sedang lafadznya dari Rasulullah SAW, inilah pendapat yang kuat. Dinisbahkannya hadis qudsi kepada Allah SWT adalah nisbah mengenai isinya, bukan nisbah mengenai lafadznya. Sebab seandainya hadis qudsi itu lafalnya juga dari Allah, maka tidak ada lagi perbedaan antara hadis qudsi dengan Al-Quran. Dan tentu pula gaya bahasanya menuntut untuk ditantang, serta membacanya pun diangggap ibadah.

Mengenai hal ini timbul dua pertanyaan menggelitik:

Pertama, bahwa hadis nabawi ini juga wahyu secara maknawi, yang lafaznya dari Rasulullah SAW, tetapi mengapa hadis nabawi tidak kita namakan juga hadits qudsi?

Jawabnya ialah bahwa kita merasa pasti tentang hadis qudsi bahwa ia diturunkan maknanya dari Allah karena adanya nash syara` yang menisbahkannya kepada Allah, yaitu kata-kata Rasulullah SAW: “Allah Ta`ala telah berfirman…, atau Allah Ta`ala berfirman….” Itulah sebabnya kita namakan hadis itu adalah hadis qudsi. Hal ini berbeda dengan hadis-hadis nabawi, kerena hadis nabawi tidak memuat nash tentang hal seperti ini.

Di samping itu bisa jadi isinya diberitahukan (kepada Nabi) melalui wahyu (yakni secara tauqifi), namun mungkin juga disimpulkan melalui ijtihad (yaitu secara taufiqi), dan oleh sebab itu kita namakan masing-masing dengan nabawi sebagai terminal nama yang pasti. Seandainya kita mempunyai bukti untuk membedakan mana wahyu tauqifi, tentulah hadis nabawi itu kita namakan pula hadis qudsi.

Pertanyaan kedua, bila lafal hadis qudsi itu dari Rasulullah SAW, maka dengan alasan apakah hadits itu dinisbahkan kepada Allah melalui kata-kata Nabi?
Jawabnya ialah bahwa hal yang demikian ini biasa terjadi dalam bahasa Arab, yang menisbahkan kalam berdasarkan kandungannya bukan berdasar lafadznya. Misalnya ketika kita mengubah sebait syair menjadi prosa, kita katakan `si penyair berkata demikian`. juga ketika kita menceritakan apa yang kita dengar dari seseorang kita pun mengatakan `si fulan berkata demikian`.

Begitu juga Al-Quran menceritakan tentang Nabi Musa, Fir`aun dan sebagainya isi kata-kata mereka dengan lafal mereka dan dengan gaya bahasa yang bukan pula gaya bahasa mereka, tetapi dinisbatkan kepada mereka.

`Dan ketika Tuhanmu menyeru Musa: `Datangilah kaum yang zalim itu, kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?` Berkata Musa: `Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.Maka datanglah kamu berdua kepada Fir`aun dan katakanlah olehmu: `Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil beserta kami`.Fir`aun menjawab: `Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. Berkata Musa: `Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah kamu telah memperbudak Bani Israil`.Fir`aun bertanya: `Siapa Tuhan semesta alam itu?` Musa menjawab: `Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayai-Nya`. (Asy-Syuara`: 10-24)


https://edywitanto.wordpress.com/hadist-qudsi/perbedaan-hadits-qudsi-hadits-nabawi/