Renungan Akhir Ramadhan

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib) Continue reading

Advertisements

Asal Usul Peringatan Nuzulul Quran

Bagaimana dengan peringatan Nuzulul Qur’an di Indonesia? Ia bercerita, mengapa di Indonesia nuzulul qur’an lebih familiar diadakan pada malam 17 Ramadhan?

“Itu kurang lebih karena dulu ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, bertepatan pada hari jum’at tanggal 17 Ramadhan, atas saran Buya Hamka, presiden pertama Indonesia ini menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an sebagai rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.

Akibat Ibadah Yang Tidak Berbuah Ketakwaan

Ada sebuah kisah yang di dalamnya terdapat pelajaran besar, agar kita dalam memandang suatu ibadah, tidak terbatas kepada lahiriyah amal semata, namun mampu meneropong hakikat sebuah amal ibadah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا – غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ .  قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! فَإِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا – وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ )

“Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah Seseungguhnya ada seorang wanita yang terkenal dengan banyaknya shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia dikenal pula suka menyakiti tetangganya dengan lisannya? Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia masuk Neraka.’ Lalu orang tersebut berkata lagi, “Wahai Rasulullah! seungguhnya ada seorang wanita yang dikenal sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya, dan dia bersedekah dengan sepotong keju, namun ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda ‘Dia masuk Surga’” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Mundziri).

Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Beliau suatu saat mengatakan, “Seharusnya bagi kita -ketika kita sedang puasa- takwa kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla lebih besar daripada takwa kita pada saat sedang tidak berpuasa, walaupun takwa itu wajib dilakukan, baik pada saat tidak puasa maupun pada saat puasa, akan tetapi seharusnya dalam memperhatikan ketakwaan pada saat berpuasa itu lebih besar. Dan saya menduga, seandainya seseorang menahan diri dari kemaksiatan sebulan penuh, maka ia akan berubah cara beragamanya dan tingkah lakunya” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29384).

Kondisi kualitas Ibadah Kita

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullaah:

 الأعمال لا تتفاضل بصورها وعددها

1. Amalan-amalan tidaklah lebih baik antara satu dari yang lainnya karena sebab bentuk dan banyaknya.

وإنما تتفاضل بتفاضل ما في القلوب

2. Tetapi hanyalah amalan itu menjadi lebih baik dari amalan lainnya karena sebab apa yang ada di hati (ketaqwaan).

فتكون صورة العملين واحدة وبينهما في التفاضل كما بين السماء والأرض

3. Maka terdapat dua amalan yang sama, tetapi keutamaan diantara keduanya bagaikan langit dan bumi.

والرجلان يكون مقامهما في الصف واحدًا وبين صلاتهما ما بين السماء والأرض

4. Sehingga ada dua orang yang berada dalam satu shof, tetapi keutamaan sholat diantara keduanya seakan-akan antara langit dan bumi.

Tingkatan Orang Berpuasa

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam ringkasan kitab Ibnul Jauzi rahimahullahyang dinamakan Mukhtashar Minhajil Qashidin, pada hal. 44, beliau menjelaskan tentang tingkatan puasa,

وللصوم ثلاث مراتب: صوم العموم، وصوم الخصوص، وصوم خصوص الخصوص

Dan puasa memiliki tiga tingkatan:

Puasa umum,Puasa khusus (VIP), danPuasa super khusus (VVIP)

Beliaupun menjelaskan satu persatu macam-macam puasa tersebut,

1. Puasa Orang Umum

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

فأما صوم العموم: فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة

“Adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti selera syahwat (baca: menahan diri dari melakukan berbagai pembatal puasa, seperti makan,minum dan bersetubuh).”

2. Puasa Orang Khusus (VIP)

Ibnu Qudamah rahimahullah melanjutkan penjelasannya,

وأما صوم الخصوص: فهو كف النظر، واللسان، والرجل، والسمع، والبصر، وسائر الجوارح عن الآثام

“Dan puasa khusus adalah menahan pandangan, lisan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.”

3. Puasa Super Khusus (VVIP)

وأما صوم خصوص الخصوص: فهو صوم القلب عن الهمم الدنية، والأفكار المبعدة عن الله ـ سبحانه وتعالى ـ، وكفه عما سوى الله ـ سبحانه وتعالى ـ بالكلية

“Dan adapun puasa super khusus adalah puasanya hati dari selera yang rendah dan pikiran yang menjauhkan hatinya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menahan hati dari berpaling kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala secara totalitas!”

Di tingkat manakah kita berada???

Manfaat Beribadah

Semua ibadah, baik berbentuk ucapan ataupun perbuatan, lahir maupun batin, terkait dengan badan maupun harta, maka tidak lain merupakan amal tazkiyyatun nufus, pensucian jiwa dan hati dari kekotoran. Setiap ibadah itu adalah gizi bagi hati yang membuahkan kebersihan hati, kebaikan akhlak, dan meningkatkan keimanan. Contohnya adalah empat ibadah yang penting dan berstatus rukun Islam, yaitu shalat, puasa ramadhan, zakat mal, dan haji berikut ini.

Shalat

Tentang shalat, Allah Ta’ala mengaitkan ibadah shalat dengan buahnya, berupa kebersihan jiwa dari kekejian dan kemungkaran,Dia berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari kekejian dan kemungkaran” (Al-‘Ankabuut: 45).

Zakat

Tentang zakat, Allah Ta’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (At-Taubah: 103).

Di dalam Ayat tersebut terdapat penjelasan zakat jika ditunaikan dengan baik adalah untuk mensucikan jiwa dari kotoran-kotoran dosa.

Haji

Rukun Islam kelima, haji, Allah Ta’ala berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik (kemaksiatan) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (Al-Baqarah: 197).

Di dalam Ayat tersebut, terdapat penjelasan, bahwa haji yang baik tidaklah pernah selaras dengan rafats,  fasik (kemaksiatan) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Seseorang yang menunaikan haji dengan benar akan suci jiwanya dari perkara-perkara tersebut.